Scroll to top

Jejak literasi Indonesia,  Sejarah Singkat
User

Jejak literasi Indonesia, Sejarah Singkat

Konon banyak yang mengamini bahwa bangsa indonesia sudah mengenal dunia literasi sejak jaman kuno, seperti adanya peninggalan gambar dan tulisan di goa goa prasejarah, atau jejak tulisan dalam berbagai prasasti serta candi-candi di jaman kerajaan nusantara. Setelah itu di jaman kolonial, kita sudah mengenal bagaimana literasi semakin dikembangkan, salah satunya R.A. Kartini rajin membaca buku dan menuliskan surat untuk sahabatnya di Belanda (yang kemudian dijadikan buku dengan judul “Habis Gelap, Terbitlah Terang”). Kemudian dalam narasi sejarah bangsa, diceritakan bahwa perlawanan bangsa Indonesia dimulai dengan banyaknya produk-produk tulisan para tokoh pejuang dan penulis surat kabar cetak yang sangat kritis terhadap pemerintah kolonial Belanda.

Maka tak heran bila kemudian pada masa Kemerdekaan Indonesia, kemudian Presiden Sukarno sangat bersemangat membangun negara dengan tdiak lagi mengangkat senjata, tetapi mengangkat pena dan buku untuk memberantas buta huruf dikalangan masyarakat biasa. Oleh sebab itu pada itu sekitar 14 maret 1948, dicanangkanlah program Pemberantasan Buta Huruf (PBH) walau kondisi masih dalam keadaan darurat perang . Dalam pelaksanaan PBH yang darurat tersebut, ternyata kegiatannya dapat terlaksana di 18.663 tempat, dengan melibatkan 17.822 orang guru dan 761.483 orang murid. Sementara itu penyelenggaraan secara swadaya juga dilakukan di sekitar 881 tempat dengan melibatkan 515 orang guru dan 33.626 murid. Setidaknya dari program tersebut dapat menekan angka 90% buta huruf menjadi 40%. ditahun 1960an.

Baca Lainnya :

Pada masa Orde Baru program pemberantasan buta huruf juga ada namun tidak segreget pada masa Orde Lama. Pada masa program pemberantasan buta-huruf yang disebut Program Paket ABC. Program tersebut berbeda dengan program sebelumnya yang memobilisasi besar besaran massa untuk kegiatan pemberantasan buta aksara, Program ABC lebih banyak mengandalkan birokrasi pemerintah.

Kemudian pada tahun 1972 dicanangkanlah program Aksarawan Fungsional, yang merupakan program pemberikan pelajaran membaca, menulis dan berhitung serta keterampilan tertentu. Pada masa tersebut program aksarawan fungsional yang hakikatnya sudah dilaksanakan pada masa Orde Lama, semakin diperbaiki dan diperbarui supaya bisa semakin mengurangi jumlah masyarakat yang buta huruf.

Selanjutnya pada tahun 1975 diadakan program kegiatan inovasi pendidikan. Program inovasi ini meliputi semua jenis dan tingkat pendidikan di dalam (formal) maupun di luar sekolah (non formal). Dalam kegiatan inovasi pendidikan tersebut terdapat 25 poin yang salah satunya adalah program wajib belajar (Wajar). Wajar ditetapkan langsung oleh presiden Soeharto pada tanggal 2 Mei 1984. Program Wajar ini dikhususkan bagi anak-anak usia 7 – 12 tahun, yaitu usia sekolah dasar atau sederajat.

Jadi soal bagaimana literasi yang bertujuan supaya bangsa Indonesia “Melek Aksara” memang sudah lama dilakukan dan setiap jamannya selalu berubah dan berkembang. Seperti tulisan diatas, bahwa di masa Orla dan Orba terdapat kebijakan yang sama sama tujuannya, namun berbeda caranya.

 

TAGS: nasional

Write a Facebook Comment

Comments ( 2 )

Leave a Comments